Pages

Tampilkan postingan dengan label Pakdhe Raya S. Jokondokondo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pakdhe Raya S. Jokondokondo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juni 2014

Lonte Sontoloyo



Pemburu berita sedang berada di puncak jayanya saat ini. Segala berita tumpah ruah selama bulan-bulan terakhir dan bulan-bulan ke depan. Berita politik, korupsi, pemilu, jelang puasa, dan piala dunia.

Nanti juga masih banyak berita yang menunggu untuk dibeberkan. Tentang arus mudik, penentuan Presiden oleh KPU, hari kemerdekaan, dan lain sebagainya. Bagi mereka sang wartawan, pertengahan tahun ini jelaslah tidak bisa disebut sebagai musim paceklik.

Ada satu berita yang baru-baru ini menyentil saya untuk nggak bisa nahan diri minta komentar dari Pakdhe Raya S. Jokondokondo. Berita mengenai penutupan lokalisasi Gang Dolly yang rencananya akan ditutup pada tanggal 18 Juni.

Pakdhe Raya yang sedang udud di teras rumah tampil berbeda dengan rambut gondrongnya yang dikucir. Mau dikucir, mau dikepang, mau di apa-apain ya tetep aja, rambut keritingnya selalu terlihat sangar.

‘Pakdhe Raya setuju nggak dengan wacana penutupan Gang Dolly itu?’ Saya memulai obrolan dengan pertanyaan.

Asap mengepul di depan bibirnya. ‘Lepas dari pernyataan setuju atau ndak, yang pasti sampeyan musti tahu, Mas. Gang Dolly ndak bakal pernah ditutup.’

‘Loh, tapi pakdhe, Pemkot Surabaya aja udah mengkonfirmasi perihal rencana penutupan pada tanggal 18 itu kok. Panjenengan belom liat beritanya, ya?’

‘Saya yakin, Mas. Gang Dolly itu ndak bakal tutup. Gang Dolly hanya akan pindah tempat dan berganti nama saja.’

‘Maksud Pakdhe?’


‘Selama upaya dan cara pemerintah masih kayak Tukang Perintah, gang Dolly akan tetap ada. Mungkin saja namanya yang berubah jadi Gang Peni, Gang Kartini, Gang Si Beby, Gang Si Doi, atau yang lainnya. Singkat kata, rencana penutupan ini hanya istilah lain dari Imigrasi Mucikari.’

Mungkin karena merokok, saya menduga. Pakdhe Raya tumben hari ini bisa seserius ini.

‘Memangnya menurut panjenengan cara yang benar untuk benar-benar menutup lokalisasi Gang Dolly gimana, Pakdhe?’

Asap kembali mengepul dan mengepung badan Pakdhe Raya. Saya yang bukan perokok berkali-kali terbatuk karenanya.

‘Yaa lonte-lontenya yang dibenahi. Vagina lontenya yang ditutup pake pendekatan intensif. Bukan cuman tempat mereka biasa “berdagang” yang melulu diurusi. Kalo vagina lonte-lonte itu terus menerus dibiarin bolong, wajarlah kalo banyak penis yang keluar masuk disana.’

Ah, Pakdhe Raya mulai sembarang ngomongnya. Saya nggak berani protes. Saya masih pengen ndengerin penjelasan beliau. ‘Cara “menutup vagina” mereka supaya nggak bolong gimana, Pakdhe?’

‘Begini, Mas. Mari saya jelaskan. Jadi walau gimana pun, yang namanya lonte itu juga manusia. Mereka punya hak dan derajat yang sama dengan kita. Sesama manusia. Tuhan ndak pernah memandang sebelah mata para hambaNya. Cuman kita yang suka sombong membeda-bedakan manusia sesuka jidat.

Liat saja tuh para ustad yang khotbah di pengajian. Beberapa diantara mereka nyuruh kita supaya menjauhi para lonte. Bahkan ada yang sampai mengata-ngatain kalo para lonte dipastikan masuk nerakalah, yang berdosa besarlah, yang temannya iblislah. Banyak pokoknya, Mas.

Logikanya gini, si ustad menghina dan menghujat si lonte sedemikian rupa tapi jangankan mencoba mengajak mereka berubah ke jalan yang benar, hlawong mereka malah merasa jijik dan menyuruh kita menjauhi.

Sekarang, mana mungkin si lonte mau dan bisa berubah kalo lingkungan sekitar sudah mengucilkan mereka. Mana mungkin si lonte sadar perbuatannya salah, kalo yang tahu mana yang benar ndak mau mengajak mereka untuk berubah menjadi benar.

Hati saya miris, Mas. Seandainya saja para pemuka agama mau mendatangi dan mengadakan pengajian untuk para lonte, pasti jumlah lonte akan berkurang. Sudah ada memang, tapi masih amat sangat sangat jarang.

Saya mikirin perasaan para lonte itu. Mungkin mereka ndak pengen hidup menjadi lonte. Mungkin sesuatu memaksa mereka untuk menjadikan lonte sebagai sebuah profesi. Mereka, lonte-lonte itu, seperti anak tiri yang dicaci maki dan lupa diurusi oleh orangtua kandung mereka sendiri.

Mereka itu lonte. Kalopun ingin ngasih ceramah ke mereka yo ada caranya sendiri. Jangan bawa ayat Tuhan atau khotbah yang panjang tentang azab neraka. Mereka ndak bakal mau denger. Juga sekali lagi, jangan mencaci mereka. Kasihan, hati mereka rawan rapuh.’

‘Lalu gimana cara ngomong yang baik ke lonte-lonte itu, Pakdhe?’

‘Yo saya ndak tahu, Mas. Coba nanya ke psikolog, mungkin mereka lebih paham. Saya cuma bisa berbagi pengalaman. Dulu saya pernah punya sahabat yang masih bekerja sebagai lonte. Boleh percaya boleh ndak, dia ngomong sendiri ke saya kalo dia pensiun dini dari dunia kelontean gara-gara denger omongan saya.’

‘Pakdhe ngomong apa?’


‘Waktu itu saya di suatu kesempatan dia nangis-nangis curhat ke saya, katanya dia benci ngelonte tapi nggak punya pilihan lain selain menjadi lonte. Untuk membantu biaya hidup orang tua, dia beralasan.

Pada waktu itu saya cuma bilang ke dia, “Yo saya ngerti gimana perasaan sampeyan. Saya cuman bisa berdoa semoga pekerjaan sampeyan saat ini ndak lama. Sampeyan bisa cepet beralih ke profesi lain. Untuk saat ini, dengan keadaan seperti ini, lakukan yang perlu dilakukan. Tuhan ndak pernah tidur. Tuhan tahu apa yang sampeyan mau. Tuhan mengabulkan doa sampeyan nanti tepat kalo sampeyan memang sudah siap. Tuhan sayang sama sampeyan, nduk.” Gitu mas.’

‘Dan dia beneran pensiun, Pakdhe?’

‘Seorang yang rapuh hanya mampu dikuatkan sama yang namanya sentuhan kasih sayang, Mas. Segala yang berbau kekerasan ndak mempan menyadarkan hatinya. Tapi kelembutan, kasih sayang dan perhatianlah yang akhirnya membuat dia berhenti menjajakan diri.’

Saya tersenyum mendengar wejangan Pakdhe Raya.
Entah dari mana ada perasaan takjub yang menggelembung. Tersebar dalam skala besar bercampur dengan asap rokok yang mengambang pelan di atas kami.

Pada akhir jumpa, malam itu, Pakdhe Raya kembali berkata, ‘Hati saya rasanya miris, Mas. Banyak orang yang ndak sepantasnya menghina para lonte, malah menjadi yang paling khusu menghina mereka. Barangkali yang menghina itu lupa, bahwa dirinya juga belum tentu lebih mulia dari lonte-lonte yang mereka hina. Bisa jadi, merekalah yang lebih menjijikkan.’


‘Iya, Pakdhe. Mereka lebih sontoloyo!’

‘DASAR KONTOLOYO..! eh, SONTOLOYO!’


(.‘’)(‘’.) (.‘’)(‘’.)

Matur nuwun sudah kersa pinarak ke gubuk kecil saya
Sebuah gubuk, tempat menabung potongan kejujuran dan cuplikan angan

Jumat, 06 Juni 2014

Siswa SMK ML di Pantai Baron

 
Posting ini merupakan kelanjutan dari posting sebelumnya di: Ngebis ke Pantai Siung. Sebab saat itu pasca berkunjung menikmati Pantai Siung, saya dan teman-teman yang lain melanjutkan trip ke Pantai Baron.




Kok judulnya Siswa SMK ML di Pantai Baron? Emang ada video bokepnya ya?

Kalo kamu yang ngeklik link dan tiba di posting ini karena berharap menemukan video sepasang siswa SMK lagi kebelet berkembang biak sebelum waktunya, mohon maaf sekali, kamu harus menyesal. Nggak ada video apapun di posting ini. Adanya cuman foto. Dan bukan foto mesum.

ML yang saya maksud disini ialah ML = Memandangi Laut. Jadi, kalo Siswa SMK ML di Pantai Baron artinya… Siswa SMK Memandangi Laut di Pantai Baron.

Karena ya memang itu yang saya lakukan bareng temen-temen di Pantai Baron, mainan air, tamasya, sekalian memandangi laut.






Ah, Baron. Pantai Baron.

Dulu sebelum berangkat, sehari sebelumnya saya sempet ketemu sama Pakdhe Raya S. Jokondokondo. Pakdhe yang nyentrik plus berambut lebat ini ngasih celetukan khasnya.

‘Mas Bin, sampeyan tahu ndak kenapa pantai itu dinamakan Pantai Baron?’ Beliau bertanya.

Saya menggeleng. ‘Ndak tahu Pakdhe, emang Pakdhe tahu?’

‘Hahahaha…’ Dengan centil, eh Pakdhe Raya mengedipkan satu mata. ‘Ya jelas tahu lah..’

‘Kenapa dinamakan Pantai Baron, Pakdhe?’

‘Jadi gini, dulu ada sebuah pantai yang kabur dari penjara. Dia pantai kriminal yang sangat kejam. Setelah kabur, para polisi langsung mencarinya kemana-mana. Tapi sampai sekarang pantai itu belom ketemu. Nah, dari situ muncullah nama, Pantai ini disebut Baronan!’

Saya bengong mikir panjang. Ini yang bego siapa, ya?

‘Itu BURONAAAAANN, PAKDHEEEE….! BUKAAAN BARONAAAAANN…!!’

‘Huahahaha… huahahaha…. Ya maaf, Mas. Mana saya tahu kalo udah ganti nama. Huahahaha.’ Tawa Pakdhe Raya menyembul keluar. Menggelegar. Ah, dasar!

(.‘’)(‘’.) (.‘’)(‘’.)



Cukup ya, basa-basinya.
Kini, mari saya ceritakan tentang petualangan saya Ml di Pantai Baron.

Mulai masuk bus kami serombongan dari Pantai Siung otw ke destinasi kedua: Pantai Baron. Jarak kedua pantai ini cukup bikin saya mual dan akhirnya (lagi-lagi) mabok. Jaraknya sejauh 6 kilo.

Dalam perjalanan antar dua pantai ini, saya disuguhi banyak panorama pantai-pantai lain. Dengan kata lain, rute ke Pantai Baron setidaknya melewati empat pantai. Antara lain Pantai Indrayanti, Sundak, Krakal dan Drini.

Nah pas tiap ngelewatin pantai-pantai itu, mas-mas TL nya selalu nyeletuk bikin joke-joke mengenai asal-usul pantai yang nyeleneh. Sama kayak yang dilakuin Pakdhe Raya tadi.






Ketika melewati Pantai Sundak, mas nya bilang, ‘Disamping kanan kita kali ini adalah tempat wisata Pantai Sundak. Nama Pantai Sundak diambil dari dua nama hewan, yaitu Asu dan Landak.
Jadi dulu alkisah ada Asu (Bahasa jawa = Anjing) menjalin hubungan terlarang dengan Landak di Pantai ini. Kedua orangtuanya nggak setuju. Mereka dikutuk. Jadilah pantai ini. Pantai Sundak.’

Lalu, saat melewati Pantai Krakal, mas nya ngomong, ‘Nah ini adalah Pantai Krakal. Kenapa dinamakan Pantai Krakal? Karena dulu ada Kera yang melancong jauh meninggalkan desanya. Ditengah perjalanan yang begitu panas, ia merasa haus dan kakinya pecah-pecah.
Kera itu berdoa kepada Tuhan supaya diberi sesuatu yang bisa melindungi kulit kalinya. Tuhan pun mengabulkan. Kera itu menemukan sebuah sandal. Dan rasa hausnya hilang ketika tahu ternyata ia menemukan sandal di sebual Pantai. Kera dan sandal. Krakal. Begitulah.’

Dan terakhir, ketika melewati Pantai Drini, dengan singkat mas nya menjelaskan, ‘Nah, ini namanya Pantai Drini. Dinamakan Pantai Drini karena dulu disini tempatnya jual Bikini. Disini jual Bikini, disingkat Drini. Hahahah.’



Heuf. Memang Indonesia adalah Negara yang kaya. Kaya akan SDOA (Sumber Daya Orang Absurd). Dan celetuk-celetuk mas nya tadi sukses menuai tawa teman-teman. Temen-temen saya pada ketawa, saya nggak. Hlawong saya mabuk mulu.




Durasi menuju Pantai Baron ternyata cukup cepet. Cuma memakan waktu 15 menitan. Dan kami pun tiba di Baron.






Sekilas, kesan pertama yang melekat pada benak saya ketika mendapati Baron adalah… Pantai ini udah nggak perawan.




Tanahnya ya kebanyakan berupa pasir coklat, bukan putih. Hal itu berpengaruh ke warna airnya. Airnya yang jernih jadi ikut berwarna kecoklatan. Adem sih, jernih dan seger juga, tapi kesannya kayak kumuh gitu. Keperawanannya udah hilang. Entah diperawani oleh apa—atau siapa.

Tapi ya tetep, saya yang awalnya cuma pengen motret asal jeprat-jepret karena badan saya yang nggak enak—pasca mabok berat, nggak bisa nahan untuk nggak main air. Cebur-ceburan. Dan ML. Memandangi laut.




Pantai Baron itu rame banget. Rame orang-orang, rame kapal para nelayan, dan rame orang jualan.

Di sela seluruh keramaian itu, hati saya masih tertinggal di pantai sebelumnya, Pantai Siung. Dengan segala hiruk pikuknya, entah kenapa, pantai baron belum mengenai hati saya.




Seperti orang yang tengah melakoni ritual malam pertama dan berharap dapat mencicip sebuah keperawanan dari pasangan, dengan kecewa, Pantai Baron memang perawan tapi keperawanannya sudah sirna sejak sebelum malam pertama.




(.‘’)(‘’.) (.‘’)(‘’.)

Matur nuwun sudah kersa pinarak ke gubuk kecil saya
Sebuah gubuk, tempat menabung potongan kejujuran dan cuplikan angan


Selasa, 08 April 2014

Caleg Sontoloyo




Sembilan April. Mulai dari media televisi, koran, radio sampai ke hash tag twitter, bahkan topik ngerumpi tetangga, semua mayoritas membahas satu persoalan: Calon Legislatif.


Saya tidak begitu paham soal caleg dan seabrek-abreknya. Pengetahuan saya tentang DPR, DPD, dan DPRD hanya tersendat pada pelajaran PKn. Pun demikian, saya tetap tak mau menjadi bagian dari para golongan putih.

Pesta caleg tahun ini, terlepas dari seluk beluk caleg yang bikin mumet, ternyata terdapat banyak hal yang unik—cenderung absurd. Berawal dari caleg atau capres yang nyekar ke tempat-tempat astral sampai para pihak RSJ yang telah menambah bahkan menyiapkan sejumlah kamar VIP untuk para caleg yang gagal lantas gila.

Ini absurd sekalgus realistis buat saya. Ini bukan mengantisipasi tapi terkesan seperti mengharapkan akan banyak caleg yang jika nanti gagal terpilih akan menjadi edyan. Memang kenyataannya begitu, para caleg hanya menyiapkan mental untuk menang tapi terkadang lupa mengasah keikhlasan hati untuk kalah. Wadoh!

Ada juga yang unik dari caleg. Mulai dari gambar poster yang nyeleneh hingga tagline nya yang ngelenyit. Masa ada poster caleg yang bergambar seorang caleg sedang berjabat tangan dengan Barrack Obama, ada yang rangkulan sama Shyahrukan, bahkan ada yang berpose layaknya agen 007 James Bond! Lengkap dengan jas dan membawa pistol pula.

Beberapa hari yang lalu saya melihat ada poster caleg perempuan bernama Suharti. Foto dan gambar pada baliho beliau biasa saja—rapi dan sopan. Tapi tagline nya yang rada slengean tapi kreatif. Masa tagline nya berbunyi gini, ‘Dulu adalah zamannya Pak SUHARTO, kini saatnya kita sambut zamannya BU SUHARTI….! Coblos nomor blablabla!’. Hahaha. Ada-ada saja.

Kalo tidak percaya, monggo googling gih.

Selain itu, yang absurd yang berhubungan dengan caleg adalah tiga jenis setan menurut Pakdhe Raya S. Jokondokondo. Iya, Pakdhe nyentrik dan doyan ngawur itu siang tadi menjelaskan kepada saya dengan gaya khasnya. Ngawur tapi filosofis.

‘Jadi di dunia ini ada tiga jenis setan yang berbeda, Mas. Sampeyan tahu?’ tanya Pakdhe Raya.

‘Aduh, satu-satunya setan yang saya tahu tuh cuman setan yang berwujud tinggi besar, hitam dan berambut gondrong berantakan tu Pakdhe. Hehehe.’ Saya berceloteh seadanya.

Mata Pakdhe Raya melotot. ‘Hush! Sampeyan nyindir saya, ya? Saya ini bukan setan! Enak aja ngatain wong tuwo!’

‘Lha terus?’

‘Saya ini bukan setan. Tapi Pakdhenya setan! Hauhahuahahuahahahahaha……’

Untuk sekian detik, mendengar tawa Pakdhe Raya yang tiba-tiba dan keras menggelegar bagai halilintar yang menyambar-nyambar membuat saya curiga kalo beliau memang mengatakan yang sebenarnya. :D

‘Jadi begini, Mas. Di alam semesta ini ada tiga jenis setan. Saya akan jelaskan satu per satu. Kalo ndak jelas, sampeyan boleh nanya.’

‘Nggih, Pakdhe. Setan yang pertama jenis apa, Pakdhe?’

‘Pertama, Setan Biasa. Ini adalah jenis setan yang biasa mengganggu manusia tapi bakalan lari terbirit-birit jika dibacakan ayat kursi.’

Saya menganggu-angguk. ‘Kedua?’

‘Jenis kedua, Setan Kebal. Ini setan yang kalo cuman dibacain ayat kursi dia ndak mempan.’

‘Lah, lalu gimana ngusirnya, Pakdhe?’

‘Gampang. Ayatnya ditinggal, kursinya yang dipake.’ Pakdhe Raya menunjuk kursi yang saya duduki. ‘Dipake nggebukin tuh setan!’

Penjelasan Pakdhe Raya mulai menarik. Saya penasaran dengan jenis setan ketiga. Setan apa ya?

‘Setan terakhir jenis apa, Pakdhe?’

‘Huahahuahahahaha…’ Pakdhe Raya malah ketawa. ‘Setan yang terakhir itu jenis Setan Preman, Mas. Jenis setan yang hanya takut kehilangan kursi. Huahahuahahahaha….’

‘Maksud Pakdhe?’

‘Lho, ya mereka itu calon-calon legislatif yang sontoloyo, Mas. Mereka lah setan preman. Premannya Negara. Kerjanya ndak begitu hebat tapi suka malak uang rakyat. Mereka lah yang kita pilih untuk duduk di kursi singgasana Dewan Perwakilan tapi malah ke luar negeri ngabisin duit buat dolan-dolan. Mereka yang saling umbar janji tanpa bukti tapi ya takut kehilangan kursi. Kerja bukan buat rakyat, tapi sekedar cari obat anti melarat. Ujung-ujungnya, Indonesia kita yang jadi gawat!’ jelas Pakdhe Raya panjang kali lebar.

‘Waduh, kalo begitu kita harus gimana Pakdhe?’

‘Tapi kan ndak semua wakil rakyat sontoloyo semua, Mas. Ya ada wakil rakyat yang benar-benar kerja benar. Cuman kan yang seperti itu minoritas.’ Kata Pakdhe Raya mengingatkan.
‘Setelah kita melaksanakan kewajiban memilih wakil rakyat sesuai kepercayaan nurani, kini tugas kita adalah mengawasi mereka. Awasi kerja mereka bagaimana, bagus ndak? Males-malesan ndak? Mbolosan ndak? Kerja dengan benar atau cuma bikin onar? Sebab jika bukan kita yang mengawasi, bisa-bisa kita sendiri yang rugi. Mengerti, Mas?’

Ini nih yang saya suka dari Pakdhe Raya. Meskipun beliau dari luar tampak tampil ugal-ugalan namun sebenarnya beliau begitu kritis dan perhatian. Cuman ya masalahnya, kalo beliau lagi kumat memang persis seperti wong edyan.

‘Mengerti, Pakdhe.’ Jawab saya mantap.

‘Huahahuahahuahahahahaha….’ Pakdhe Raya sepertinya kembali kesurupan. Tahu-tahu ketawa nggak jelas sendirian.

‘Sebentar Pakdhe, saya permisi dulu.’

‘Loh, mau kemana sampeyan?’

‘Ambil ayat kursi, Pakdhe.’

‘Buat apa?’ Pakdhe Raya melongo,

‘Buat ngusir setan!’

‘…’

‘Sontoloyo tenan sampeyan!’


(.‘’)(‘’.) (.‘’)(‘’.)

Matur nuwun sudah kersa pinarak ke gubuk kecil saya
Sebuah gubuk, tempat menabung potongan kejujuran dan cuplikan angan



Minggu, 27 Januari 2013

Raport Sontoloyo



Pada saat penerimaan raport, sudah bukan hal baru lagi jika kita melihat orangtua mengomel-ngomel karena nilai anaknya yang jeblok.

Memang ada banyak faktor yang mempengaruhi pemrosotan nilai raport anak. Bisa karena si anak malas belajar, guru pembimbing yang bikin ngantuk dan ngebosenin, kebencian terhadap suatu mata pelajaran dan lain sebagainya.

Tapi apa –biasanya- respon orangtua setelah mendapati nilai raport anak yang ‘jongkok’?

Ada yang tidak peduli sama sekali, ada yang marah sambil bentak-bentak, ada yang menambah porsi belajar anak (disuruh ikut les ini-itu) dan yang paling sering dilakukan adalah melarang kegiatan-kegiatan anak dan menciptakan peraturan-peraturan baru.

Ah, nggak usah munafik, jujur saja, anak tidak suka diperlakukan seperti itu.

Namun sayang, acap kali orangtua tak pernah (dan enggan) memahaminya. Kecuali bapak yang satu ini. Gaya dandanan yang nyentrik—rambut panjang meniru hairstyle Bon Jovi tahun 80an (tapi malah lebih mirip Didi Kempot)—tidak lantas membuatnya meniru kebiasaan orangtua lain.

Beliau punya cara sendiri dalam menyikapi raport anak. Siapa lagi kalo bukan Pakdhe Raya S. Jokondokondo itu.

‘Memangnya apa yang Pakdhe lakukan kalo nilai raport Akhadi, anak Pakdhe, jeblok?’ tanya saya pada suatu kesempatan.

‘Saya ndak pernah memarahi anak saya. Apa gunanya marah-marah? Daripada ngomel ndak jelas, saya lebih suka melihat potensi yang dimiliki anak saya. Kemudian mengarahkan dirinya ke prestasi yang sesuai dengan minat dan bakatnya.’

Pakdhe Raya menyalakan rokok Marlboro Light-nya dan melanjutkan penjelasannya. ‘Misal, nilai matematika di raport 4,5. Sedangkan nilai seni budaya si raport malah 8,5. Pasti orangtua akan mengikutsertakan anaknya ke les privat matematika. ITU KELIRU. Seharusnya orangtua mendaftarkan anaknya ikut les Seni Budaya. Karena dilihat dari potensinya, anak lebih suka seni budaya ketimbang matematika.’

‘Tapi orangtua kebanyakan malah menyuruh si anak jungkir balik memperbaiki nilai matematikanya kan, Pakdhe?’

‘Iya, itulah kesalahan para orangtua. Mereka selalu kemakan gengsi, menyuruh anak berlari ngos-ngosan demi mengejar prestasi akademis sampai setinggi puncak Mahameru. Prestasi akademis memang penting, tapi kalo anak sudah mumet dan jlimet, opo yo kudu dipaksakan?’

Saya diam, mendengarkan wejangan Pakdhe Raya dengan seksama.

‘Sekarang kan banyak to, Mas. Orang yang sudah dapat gelar Sarjana, eh tapi malah jadi pengangguran. Begitu pula sebaliknya. Misalnya saja, saya ini sekolah cuman sampai STM, sekarang saya bisa kerja mapan. Biarpun hanya jadi pemilik warung Ayam Bakar, toh saya bisa mencukupi kebutuhan keluarga saya.

Maaf, bukan maksud saya mombong, Mas. Menurut saya rejeki tiap orang memang berbeda. Asalkan kita mau berusaha pasti rejeki akan datang dengan sendirinya—meski tanpa diimbangi prestasi akademis yang melangit.’

‘Oh begitu… Lha kalo orangtua yang suka memarahi anak karena nilai raport yang jeblok, menurut Pakdhe gimana,baik apa nggak tradisi seperti itu?’

Pakdhe Raya meniupkan asap rokok dari mulutnya. ‘Kalo soal itu, saya punya ilustrasi cerita, Mas. Sampeyan mau dengar?’

‘Inggih nuh, Pakdhe. Gimana ceritanya?’

‘Ini, sambil ndengerin silakan nyambi makan kacang godhok kesukaan saya.’ Pakdhe Raya menyodorkan sepiring kacang godhok kesukaannya.

‘Jadi begini, pada suatu siang, Bu Guru membagikan hasil ulangan kepada siswa. Dari semua siswa, yang mendapat nilai jelek hanya dua anak. Sebut saja, mereka adalah Nakula dan Sadewa. Keduanya harus puas dengan nilai 50.

Sesampainya dirumah, baik Nakula maupun Sadewa memperlihatkan nilainya kepada Bapaknya. Apa yang terjadi?

Nakula langsung dimarahi dan dimaki habis-habisan sama Bapaknya. “kamu ini dirumah pasti kejaannya cuman main terus, ndak pernah belajar! Iya, to?! Nilai kok cuman 50!!! Bodoh dipelihara!!! Dasar GOBLOK!!!” begitu umpat Bapaknya.

Sedangkan Sadewa, dirumahnya, dia sama sekali ndak dimarahi sama Bapaknya. Bapaknya malah bilang begini, “Wah, dapet 50? Ndak pa-pa… lumayan. Bapak yakin kamu pasti bisa lebih baik dari ini. Belajar lagi, nggih?  Besok harus bisa dapat nilai yang lebih baik dari ini.”

Beberapa hari kemudian, kelas Nakula dan Sadewa kembali menghadapi ulangan. Setelah dibagikan, ternya Nakula dan Sadewa mengalami perubahan yang signifikan.

Nakula nilainya semakin turun, dia mendapat nilai 30. Sementara Sadewa malah meningkat, dari yang semula 50 naik menjadi 70. Perbedaan yang mencolok ini menunjukkan sikap para orangtua kita.

Kebanyakan dari mereka hanya bisa marah-marah dan ngatur-ngatur tanpa mau mencari solusinya. Mereka melupakan tiga hal yang sangat penting: mendidik, menasihati dan memotivasi anak.

Mereka mengira dengan marah semuanya akan tuntas. Padahal tidak. Marah itu ndak berguna, hanya buang-buang waktu dan akan membuat anak semakin down.

Dengan marah, bukannya memotivasi anak supaya berubah menjadi baik, tapi malah mengajarkan sang anak rasa penyesalan yang mendalam. Atau kalo dalam bahasa pacaran, anak muda sering menyebutnya: NDAK BISA MOVE ON.

Ah, andai saja semua orantua paham dengan semua itu…’

‘Iya, ya, Pakdhe… andai saja. Ya sudah, terima kasih Pakdhe atas penjelasannya. Saya seneng ndengerin Pakdhe bercerita, sampai-sampai …. Ehem … kacang godhoknya habis… hehehe.’

‘Hlah? Kacang godhokku ludes? Bocah sontoloyo! Kacang kesukaanku diembat semua…..!’

‘Hahaha… maaf, Pakdhe.’

(.‘’)(‘’.) (.‘’)(‘’.)

Hayo, apa kamu masih suka diomelin ketika penerimaan raport?

(.‘’)(‘’.) (.‘’)(‘’.)

Matur nuwun sudah kersa pinarak ke gubuk kecil saya
Sebuah gubuk, tempat menabung potongan kejujuran dan cuplikan angan